Inspirasi Taubat yang Melahirkan Semangat Dahsyat Oleh: Ustadz. Hatta SyamsuddinPKS Taktakan - Kehidupan terus berputar. Terjerembab jangan membuat mata kita terus sembab. Terpuruk tak berarti masa depan kita buruk. Terkadang kita tergerus dosa, namun jangan sampai menjadi putus asa. Ibnul Qayyim dalam kitab Madarijus Salikin mengutip ucapan salaf yang aneh terasa: ‘Adakalanya seorang hamba berbuat dosa, namun masuk surga. Dan adakalanya seseorang mengerjakan ketaatan, namun masuk neraka’. Benar demikian, dosa dan kemaksiatan yang diikuti dengan pertaubatan sungguh-sungguh selalu melahirkan lompatan keimanan yang jauh lebih tinggi dari sebelum berbuat dosa. Sementara ketaatan yang diikuti rasa puas diri dan sikap jumawa akan menggerus pahala sampai titik nol yang sia-sia. Kesedihan dan penyesalan akan sebuah kesalahan adalah hal yang perlu, tapi berputus asa dan lemah semangat setelahnya adalah jauh dari sikap mereka para tokoh kesatria nan mulia.Mari kita belajar dari sosok Nabi Sulaiman SAW, satu-satunya di dunia ini yang diberikan tiga hal yang bahkan tidak diberikan kepada Nabi Muhammad SAW. Tiga hal tersebut adalah kekayaan, kenabian dan kekuasaan. Namun tidak selamanya kehidupan beliau berjalan dengan lancar tanpa hambatan. Ada satu episode kehidupan beliau yang bahkan dicatat dalam Al-Quran dan diperjelas dalam As-Sunnah, yang memberikan pelajaran bagi kita tentang sikap pertaubatan yang dahsyat.Kisah ini termuat begitu lengkap dalam kitab hadits Bukhari dan Muslim, bagaimana suatu ketika Nabi Sulaiman begitu percaya diri mengumandangkan tekadnya: ‘Aku akan menggilir sembilan puluh sembilan istriku semalaman, yang kesemuanya akan melahirkan anak laki-laki yang berperang fii sabiilillah”. Ia merindukan generasi yang hebat, maka sebuah tekad yang dahsyat pun dilantunkan. Hanya saja pada waktu itu beliau tidak menambahkan kalimat ‘insya Allah” (jika Allah SWT berkehendak). Seorang sahabat beliau telah mengingatkan: “Ucapkan Insya Allah“. Namun beliau lalai dan tak hati-hati, terlupa nasihat sang sahabat dan langsung menjalankan apa yang ia tekadkan, menggilir istri-istrinya dalam satu malam.Apa yang terjadi kemudian adalah episode keterpurukan dan ujian bagi nabi Sulaiman. Dari 99 istrinya tersebut, ternyata hanya seorang saja yang melahirkan bayi dan itupun dalam keadaan cacat, digambarkan dalam hadits sebagai “setengah manusia”. Maka orang-orang pun meletakkan bayi itu di atas kursi Sulaiman, dan melihat hal tersebut Nabi Sulaiman pun terpuruk, bersedih mengingat ucapannya terdahulu. Inilah yang digambarkan dalam surat Shad ayat 34 Allah SWT berfirman mengisahkan: “dan Sesungguhnya Kami telah menguji Sulaiman dan Kami jadikan dia (anaknya) tergeletak di atas kursinya sebagai tubuh (yang lemah cacat) kemudian ia (Sulaiman) bertaubat. Bahkan Rasulullah SAW pun menambahkan saat menceritakan kisah ini, sekiranya ia (Sulaiman) mengucapkan insya Allah, niscaya setiap istrinya akan hamil dan melahirkan seorang anak yang akan berjuang di jalan Allah.Dalam semangat yang begitu hebat untuk melahirkan generasi pejuang, nabi Sulaiman lalai dan diingatkan oleh Allah SWT. Bagi sebagian orang ini adalah kelalaian yang sangat teknis dan sederhana, namun ternyata dibalik yang kecil itulah tersimpan cara dan hikmah Allah SWT menguji dan membesarkan nabi Sulaiman. Apa yang terjadi setelahnya? Nabi Sulaiman pun bertaubat, beliau meminta ampunan sekaligus penyesalan yang mendalam di hadapan Allah SWT. Namun itu tidak disertai kesedihan yang bertalu-talu, ataupun rasa putus asa yang menggurita dalam dada, justru sebaliknya Sulaiman tahu ia sedang diuji. Maka ia pun bertaubat dengan mengajukan permohonan yang lebih dahsyat dari yang ia capai sebelumnya. Sebuah istighfar segera disusul dengan proposal untuk mendapatkan kerajaan terbesar yang pernah dikenal dalam sejarah manusia. Dengan jelas lisan Sulaiman berujar: “Ya Tuhanku, ampunilah aku dan anugerahkanlah kepadaku kerajaan yang tidak dimiliki oleh seorang juapun sesudahku, Sesungguhnya Engkaulah yang Maha Pemberi“ (Shad:34-35)Subhanallah, taubat yang melahirkan semangat dahsyat. Dalam taubatnya nabi Sulaiman terus melanjutkan cita, bahkan ia mempunyai target yang lebih kuat, lebih besar, dari yang ia miliki sebelumnya. Sebuah kerajaan yang akan senantiasa dikenang dalam sejarah tentang kebesaran dan kekuasaannya. Maka Allah SWT pun memberikan kepada Sulaiman apa yang ia cita-citakan. Angin pun dalam genggaman, para jin tunduk di hadapan, bahkan penguasa-penguasa negeri lain siap bergabung dalam keislaman.Pelajaran besar terpatri dalam hati, mari kita bertaubat layaknya Nabi Sulaiman. Sebuah pertaubatan yang akan menjadi hentakan sejarah, untuk mencapai kemenangan dan kejayaan jauh lebih besar dari yang kita capai pada hari ini.Semoga bermanfaat dan salam optimis.Sumber: http://www.dakwatuna.com/2013/02/27555/inspirasi-taubat-yang-melahirkan-semangat-dahsyat/#ixzz2JtsKoNiH Oleh: Ustadz. Hatta Syamsuddin PKS Taktakan - Kehidupan terus berputar. Terjerembab jangan membuat mata kita terus sembab. Terpuruk tak be... Baca selengkapnya »
Fitnah, Oh, Fitnah “Jika kamu bersabar dan bertaqwa ketika mereka datang menyerang kamu dengan tiba-tiba, niscaya Allah menolongmu dengan lima ribu malaikat yang memakai tanda” (Q.S. Al-Imran: 125)Mengawali tulisan ini, penulis teringat dengan salah satu perang yang membawa kemenangan bagi pasukan Rasulullah Saw, perang Badr. Perang yang membakar semangat umat Islam, perang yang membuat penulis merinding tatkala membaca kisah-kisah keajaiban yang muncul karena bantuan yang dikirimkan oleh Allah. Seperti kata Allah pada kutipan ayat di atas. Dia datang menolong dien-Nya dengan lima ribu malaikat yang memakai tanda dan entah dengan jalan apa lagi DIA akan menolong hamba-Nya yang selalu bersabar.Dalam keadaan bagaimana pun, seruan Allah akan kesabaran ini amat banyak dalam kitab suci Al-Quran, hingga pantaslah jika ‘bersabar’ adalah pekerjaan berat yang akan diujikan kepada tiap hamba yang senantiasa berpegang teguh pada tali agama-Nya. Dan wajarlah bila balasan yang dijanjikan bagi orang yang bersabar adalah surga, sebab ia teramat berat untuk dijalani.Pembaca milis yang setia, ketika diri dilanda fitnah, maka di situlah awal sabar hendak ditanam. Tak usah khawatir akan fitnah. Sejak zaman Rasulullah, toh, perbuatan keji itu sudah ada. Masih jelas, amat kental dalam ingatan penulis, ketika orang paling munafik di kalangan Quraisy memfitnah Aisyah RA bahwa beliau sengaja berkhalwat (berduaan) dengan salah seorang sahabat. Padahal, berdasarkan kisah, sungguh hal itu tidaklah seperti yang dituduhkan. Begitu berbahayanya fitnah hingga berita tersebut menyebar di seluruh kalangan dengan begitu cepatnya. Bahkan, salah seorang sahabat, Abu Bakar Assiddiq RA yang dikenal dengan kelembutan hatinya sedemikian marahnya mendengar putrinya, Aisyah, berbuat demikian. Apatah lagi sang suami, lelaki paling mulia, Rasulullah SAW ketika mendengar kabar tersebut kemudian terbesit rasa percaya akan kabar tersebut, sungguh penyiksaan besar yang dirasakan oleh Aisyah RA semalam suntuk beliau menangis pedih. Tiga bulan lamanya ia dijauhi oleh Rasulullah, Saw. Bahkan sempat terdengar kabar, Abu Bakar RA rela putrinya diceraikan sekiranya kabar tersebut benar adanya. Itulah fitnah, punya kekuatan menumbangkan lawan atau musuh dari segi mental. Na’udzu billah tsumma na’udzu billah. Namun, perlu kita ketahui bersama bahwa kebenaran akan terkuak dengan sendirinya. Kesabaran akan membuka tabir fitnah yang tak jelas itu. Jikalau Rasulullah memperoleh kebenaran dari adanya wahyu, tentulah manusia biasa pun akan diberikan jalan oleh-Nya.Tak perlu risau dengan fitnah. Bukankah memang demikian adanya! Kebenaran akan diiringi oleh kebatilan. Bukankah sangat jelas pula bahwa kemudahan menyertai kesulitan. “Inna ma’al ‘usrii yusroo” (sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan), (QS. Al-Insyirah: 5). Usah resah akan fitnah yang bertandang jika diri sudah berjalan pada koridor yang tepat. Tak mestilah takut menggelayuti. Amat wajar kejujuran mendapat cobaan. Sudah lumrah kebenaran berteman dengan ujian. Semua sudah sunnatullah. Yang terpenting diri tahu bahwa pelaku fitnah alias ‘munafik’ tempatnya adalah Hawiah, lapisan terbawah dari tujuh neraka. Yang jelas diri paham akan firman-Nya dalam Al-Quran surah Al- Baqarah: 217 “Walfitnatu akbaru minal qotli” (Sedangkan fitnah itu lebih kejam daripada pembunuhan)Sekali lagi, tak perlu galau bila diri dilanda fitnah. Janji Allah itu pasti, bahwa “Innalloha ma’a sshoobiriin” (Sesungguhnya Allah bersama dengan orang yang sabar). Surah Al-Imran pada pembukaan tulisan di atas pun amat jelas menerangkan kepada kita bahwa kesabaran adalah kunci kemenangan. Tak perlu memikirkan dengan cara apa Dia akan menolong. Dia jauh lebih punya kuasa dibanding dengan penyebar fitnah. Dia amat tahu melalui cara apa hamba itu dimudahkan-Nya.Jaga Allah, maka Allah akan menjagamu. Itulah janji-Nya. Betapa indah ia memberikan janji kepada hamba-Nya. Tentulah, Dia akan dating dengan cara yang lebih indah. Penulis teringat dengan sebuah hadits hasan lagi shahih, yang diriwayatkan oleh Tirmidzi: Dari Abul Abbas Abdullah bin Abbas RA berkata, “Suatu hari aku berada di belakang Nabi SAW lalu beliau bersabda, “Nak, akan aku ajarkan kepadamu beberapa patah kata, jagalah Allah, niscaya Dia akan menjagamu, jagalah Allah, niscaya dia akan senantiasa bersamamu, dan bila engkau meminta pertolongan, mintalah kepada Allah. Ketahuilah, jika semua umat manusia bersatu padu untuk memberikan suatu kebaikan padamu, niscaya mereka tidak dapat melakukannya, kecuali yang telah ditulis oleh Allah bagimu, dan jika semua umat manusia bersatu padu mencelakakanmu, niscaya mereka tidak dapat mencelakakanmu kecuali dengan sesuatu yang ditulis oleh Allah bagimu. Pena telah diangkat dan catatan-catatan itu telah mengering.Sungguh dahsyat susunan hadits yang disabdakan oleh Rasulullah. Mudah-mudahan terpetik banyak hikmah. Satu hal yang mesti ditekankan dalam diri bila fitnah benar-benar bertandang adalah bahwa kemenangan akan selalu mengiringi kesabaran. Bersabar terhadap fitnah yang menghampiri insya Allah jalan keluar akan tampak jelas. Wallohu’alam bissawwab.Sumber: http://www.dakwatuna.com/2013/02/27484/fitnah-oh-fitnah/#ixzz2JlNFU7HR “Jika kamu bersabar dan bertaqwa ketika mereka datang menyerang kamu dengan tiba-tiba, niscaya Allah menolongmu dengan lima ribu malaikat ... Baca selengkapnya »
Mutiara Taqwa dalam Kerang Fitnah Mendengar suatu berita fitnah yang menyayat hati dan menimpa keluarga, seketika nuarani tersayat mengingat Rasulullah saw. karena siapa lagi yang pantas diteladani selain seseorang yang akhir hayatnya pun menyebut nama kami, umatnya, masya Allah.Suatu fitnah pernah menimpa istri Rasulullah saw, Aisyah ra ketika Aisyah tertinggal dari tandu yang membawanya karena mencari kalung yang diberikan Rasulullah dan salah seorang sahabat mengantar Aisyah untuk menyusul. Inilah yang menyulut fitnah.Bagaimana Rasulullah menghadapi hal ini? Ketahuilah bahwa Rasulullah bersabar dengan tetap berusaha mengumpulkan bukti, namun ia pun tak membela Aisyah ra, istrinya. Rasulullah sangat objektif, ini pun menjadi sebuah pelajaran bahwa rasa cinta itu memang tak boleh berlebihan.Hindarilah tersulut emosi ketika menghadapi fitnah, ‘fashabrun jamiil..!”. dan tak pula Rasulullah menyalahkan, pun menerima sementara berita yang tak pelak menyebar. Bahkan abu bakar pun mendiamkan aisyah putrinya, sampai kebenaran dari Allah datang menghampiri. subhanallah.Ada beberapa hikmah yang menjadi mata ajar keteladanan dalam menghadapi fitnah:Bahwa memang tak boleh ada cinta yang berlebih selain kepada Allah. maka tak ada pembelaan melebihi membela Allah dan Islam.Bahwa bersabar adalah sikap yang terbaik dalam menghadapi fitnah atau musibah, bukan sebuah pembelaan. hanya kesabaran.Sungguh orang-orang yang tersulut berita fitnah tentang aisyah dan orang-orang yang senang adalah bukti Allah menyaring siapa saja hambanya yang munafik, fasik, dan lemah dalam kesabarannya.Rasulullah dan para sahabat tidak banyak berkomentar pun menanggapi fitnah tersebut, karena kesabaran mengarahkan beliau pada kehati-hatian dan itulah ciri taqwa.Sungguh dengan fitnah dakwah kepada Allah dan Islam tidak akan pernah surut atau pun terhenti. Maka tak ada ketakutan terhadap suatu makhluk melainkan kepada Allah swt. Maha suci Allah.Bahwa fitnah menjadi sebuah pelajaran besar bagi umat muslim, karena sikap terhadap menghadapi fitnah akan membuktikan siapa kita sebenarnya.Sungguh sekali lagi Allah mengingatkan janganlah berlebihan berkasih sayang atau mencintai sesuatu. Sungguh tingakatan cinta terawal hanya untuk Allah. Gantilah cinta berlebihan itu dengan kesabaran cinta yang tak diungkapkan dengan kata dan penyanjungan berlebihan terhadap manusia, meski ia orang tua bahkan istri atau suami.Sungguh menahan diri untuk tidak menyibukkan diri menanggapi fitnah, karena Rasulullah dan para sahabat tahu hal itu akan semakin membuatnya gundah dan menenggelamkan pada kesedihan bahkan perbuatan yang sia-sia. Jika Rasulullah menanggapi/membela, berapa banyak waktu yang disia-siakannya dan akan menurunkan kredibilitasnya sebagagai pemimpin.Rasulullah dan para sahabat menghindari kebencian, di hati seorang muslim sejati, tiap malamya tak akan menyimpan dendam, maka sikap dan sifat objektif membawa keselamatan kepercayaan umat dari hal yang pribadi.Sebagai orang yag terfitnah Aisyah pun menangis dan bersabar, ia adalah orang yang paling sakit pun Rasulullah mengacuhkannya, namun ia pasrah jika peristiwa itu memang menyatakan Aisyah bersalah maka siap menjalani hukuman Allah, sebagai ketaatan keputusan dan jika berita itu tidak benar, maka nyatalah hari ini memang hal tersebut adalah pelajaran besar.Waspada atau berhati-hati sungguh sifat ketaqwaan. Apapun yang dikerjkan dan dikatakan berhati-hatilah.Sumber: Oleh: Qitbiya Ilhami, http://www.dakwatuna.com/2013/01/27440/mutiara-taqwa-dalam-kerang-fitnah/#ixzz2JZOGGTkO Mendengar suatu berita fitnah yang menyayat hati dan menimpa keluarga, seketika nuarani tersayat mengingat Rasulullah saw. karena siapa lagi... Baca selengkapnya »
Rincian Kesepakatan Hamas Dan Fatah Di Kairo Sumber di pertemuan mengatakan, sejumlah pertemuan antara Fatah dan Hamas di Kairo telah menghasilkan enam kesepakatan mendasar, terkait rekonsiliasi dalam setiap agendanya.Koresponden infopalestina di Kairo mengatakan, kesepakatan yang terjadi antara delegasi Hamas yang dipimpin Kholid Misy’al serta gerakan Fatah yang dipimpin Mahmud Abbas telah menghasilkan enam point penting yaitu:1. Menegaskan tentang keharusan menyukseskan setiap rekonsiliasi dalam setiap agendanya2. Menyusun panitia pemilihan di Tepi Barat dan Jalur Gaza untuk menyempurnakan daftar pemilih dan ditugasi untuk mengurus agenda dewan nasional3. Mulai melakukan pembicaraan untuk penyusunan pemerintahan yang dipimpin Mahmud Abbas4. Setelah sukses melakukan agenda rekonsiliasi bersamaan dengan dicapaikan kesepakatan penentuan waktu pemilihan dewan nasional, dewan parlemen dan presiden.5. Mengundang seluruh pemimpin elemen bangsa untuk melanjutkan tugas-tugasnya awal bulan depannya serta menetapkan undang-undang dewan nasional6. Sepakat untuk mengadakan pertemuan lanjutan pada pecan depan untuk mengatur waktu pelaksanaanya di kalangan faksi-faksi Palestina.Sumber: islampos.com Sumber di pertemuan mengatakan, sejumlah pertemuan antara Fatah dan Hamas di Kairo telah menghasilkan enam kesepakatan mendasar, terkait rek... Baca selengkapnya »
Tangkis Roket Hamas, Israel Habiskan Rp240 Miliar Pantas saja rakyat Gaza berpesta setelah gencatan senjata dengan Israel. Meski ada 162 warga Gaza yang tewas, namun beberapa roket Hamas berhasil menembus Kubah Besi antimisil milik Israel yang canggih dan mahal.Selama delapan hari perang udara itu, Kubah Besi Israel menghabiskan biaya antara US$25 juta sampai US$30 juta atau lebih dari Rp240 miliar. Pemerintah Israel sendiri mengakui, teknologi buatan Amerika Serikat ini memang mahal namun Israel berpendapat sepadan dengan kinerjanya."Jika Kubah Besi diperdagangkan di bursa saham (Tel Aviv) atau Nasdaq, harganya akan berlipat ganda beberapa kali," kta Menteri Pertahanan Sipil Israel, Avi Dichter, saat diwawancara Radio Israel.Dengan misil penyergap yang dipandu radar, lima Kubah Besi Israel berhasil merontokkan 421 dari 1.500 roket yang diluncurkan dari Jalur Gaza antara 14 November sampai gencatan terjadi pada Rabu 21 November lalu. Angka kesuksesan kinerjanya 90 persen karena tidak semua roket dari Gaza dilumpuhkan, hanya yang kira-kira menyasar kawasan berpopulasi.Dan selama delapan hari itu, hanya 5 orang korban jiwa di pihak Israel, meski ada puluhan yang terluka, menurut polisi Israel. Tiga orang tewas di pantai Ashdod ketika Kubah Besi di sana sedang tak berfungsi dengan baik.Meski terkesan besar biaya yang dikeluarkan, jika roket-roket Hamas itu berhasil mencapai sasaran di Tel Aviv, maka kerugian Israel bisa mencapai US$380 juta per hari atau 150% lebih besar dari biaya yang dikeluarkan untuk Kubah Besi beroperasi selama delapan hari. Jika begini yang terjadi, Israel bisa saja melakukan agresi darat ke Jalur Gaza untuk menghindari kerugian lebih jauh.Mengingat vitalnya peran Kubah Besi ini, Amerika Serikat berencana untuk membantu lebih banyak. Presiden AS Barack Obama menjanjikan bantuan lebih lanjut. Israel menyatakan, butuh 13 baterai Kubah Besi untuk menjamin keamanan nasional. Harga satu unit sekitar US$50 juta atau Rp450 miliar.Roket-roket Gaza ini merupakan karya Iran bernama Fajr-5s dengan jangkauan 75 kilometer dan hulu ledak 175 kilogram, meski Hamas menyatakan mereka menggunakan varian Gaza yang disebut "Qassam M-75". Iran sendiri membantah menyuplai roket ke Gaza.Lalu bagaimana dengan kondisi Gaza? Selain korban 162 jiwa dan ratusan orang luka-luka, Gaza mengalami kerusakan fisik yang luar biasa. Seorang ekonom lokal, Omar Shaban, memperkirakan kerugian material mencapai US$250 juta atau lebih dari Rp2,4 triliun. Shaban berharap negeri yang bersimpati macam Qatar dan Turki mau membantu Gaza bangkit lagi.Sumber: viva.co.id Pantas saja rakyat Gaza berpesta setelah gencatan senjata dengan Israel. Meski ada 162 warga Gaza yang tewas, namun beberapa roket Hamas b... Baca selengkapnya »
Al-Istikhlaf Setelah membicarakan sifat Islam yang inklusif, sekarang saya ingin mengajak Anda mengelaborasi satu konsep penting lainnya, yaitu al-istikhlaf. Ini berkaitan erat dengan posisi dasar yang Allah letakkan pada manusia dalam eksistensinya di kehidupan dunia. Yaitu menjadi khalifatullah fil-ardh.Posisi khalifah adalah takdir kepemimpinan yang Allah berikan kepada manusia untuk mengelola kehidupan di muka bumi ini sesuai dengan ajaran Allah SWT. Untuk itu, Allah meletakkan berbagai potensi dan kemampuan yang dibutuhkan setiap manusia untuk mampu menjalankan kepemimpinannya. Ini yang disebut konsep At-Taskhir, yang akan saya bicarakan kemudian. Banyak pihak memahami posisi khalifah sebagai kepemimpinan politik, dalam suatu bangunan negara misalnya. Pemahaman ini tidak salah, namun tidak utuh. Pada dasarnya posisi kepemimpinan ini melekat pada diri manusia dalam dimensi ruang, waktu dan keadaan apa saja. Posisi dan peran ini bisa dijalankan manusia atas dirinya sendiri, dalam ruang keluarga, masyarakat dan tentu juga negara. Memang harus diakui, wacana paling dominan adalah posisi khalifah dalam ruang negara. Dan inilah wacana yang sering memunculkan perdebatan di kalangan umat Islam serta memunculkan kecemasan di kalangan luar umat Islam. Bahkan seringkali tanpa sadar sifat inklusivitas Islam jadi dipertentangkan dengan konsep kekhalifahan.Saudaraku, tahukah kita kapan seseorang itu bisa menjadi pemimpin dan penguasa (politik)? Yaitu ketika seseorang (atau sekelompok orang) mampu memenangkan ruang kompetisi yang disediakan oleh setiap mekanisme yang disepakati. Dalam hukum manusia, seseorang yang mampu mengendalikan sumberdaya secara maksimal, maka ia paling berpeluang memenangkan kompetisi kepemimpinan. Meski hukum Allah seringkali menunjukkan hal yang berbeda. Allah dengan kekuasaan-Nya yang tanpa batas, bisa menjatuhkan atau mendudukkan kepemimpinan seseorang dengan cara-Nya sendiri. Hukum Allah yang pasti adalah akan menjaga dan meneguhkan kepemimpinan seseorang (sekelompok orang) yang sejalan dengan ajaran-Nya. Islam sesungguhnya tidak mempersoalkan bentuk mekanisme kompetisinya, namun lebih menekankan pada sifat-sifat kompetisi tersebut. Seorang pemimpin bisa saja hadir melalui mekanisme pemilihan langsung, pemilihan tidak langsung atau bahkan pengangkatan. Tetapi Islam menegaskan tentang syarat-syarat seseorang menjadi pemimpin, nilai-nilai syura dalam rekrutmen kepemimpinan, dan sikap-perilaku menjalankan kepemimpinan.Saya ingin mengoreksi satu pemahaman salah tentang konsep khalifah. Ada sementara kalangan dari umat Islam yang meyakini bahwa konsep kekhalifahan baru bisa dijalankan dan ditegakkan ketika kehidupan ini sudah ada dalam bingkai sistem Islam. Sehingga yang terjadi kemudian, mereka akan menjauhkan diri dari ruang kompetisi kepemimpinan jika itu berlangsung dalam suatu ruang (negara) yang belum berada dalam bingkai sistem Islam. Akibatnya, muncullah sikap mengharamkan demokrasi, pemilu dan juga pilkada. Memang kalangan ini memiliki dasar hujjah-nya sendiri. Namun dampak yang pasti adalah ruang-ruang kompetisi kepemimpinan di mana ummat berposisi sebagai obyek kepemimpinan dan kekuasaan, tidak lagi diisi oleh orang-orang yang lebih berhak menjalankan posisi dan peran kekhalifahan.Dalam konteks persoalan inilah saya ingin mengajak Anda bicara tentang Istikhlaf. Pengertian Istikhlafadalah proses menuju eksisnya kepemimpinan yang diinginkan oleh Allah dan Islam. Proses yang dimaksud tentu saja dalam arti luas. Bukan saja pada mekanisme yang dijalankan, tetapi juga pada kondisi prosesual yang dinamis, yang bisa saja dipersepsi belum sepenuhnya sesuai dengan konsep nilai-nilai Islam. Artinya, keterlibatan seorang muslim (kelompok umat) dalam kompetisi kepemimpinan dalam ruang yang belum sepenuhnya selaras dengan nilai Islam adalah bagian dari upaya untuk mewujudkan ruang kehidupan yang Islami. Menjauhkannya berarti memperlambat upaya tersebut.Saya ingin mengajak Anda menyimak firman Allah berikut ini:”Apakah mereka tidak memperhatikan berapa banyaknya penguasa-penguasa yang telah Kami binasakan sebelum mereka, padahal telah Kami teguhkan kekuasaan mereka di muka bumi, yaitu kekuasaan yang belum pernah Kami berikan kepadamu. Dan Kami curahkan hujan yang lebat atas mereka dan Kami jadikan sungai-sungai mengalir di bawah mereka, kemudian Kami binasakan mereka karena dosa mereka sendiri, dan Kami ciptakan sesudah mereka penguasa yang lain..” (Al-An’aam: 6).Ayat ini menjelaskan suatu kondisi di mana muncul satu ruang kehidupan yang para penguasanya menjauhkan diri dari nilai-nilai kebenaran, dan mengisinya dengan beragam kejahatan. Lalu sesuai hukum kekuasaan Allah, para penguasa itu dijatuhkan untuk kemudian Allah berikan ruang kompetisi bagi munculnya penguasa-penguasa baru. Pada ayat ini Allah tidak memastikan sosok penguasa baru yang muncul. Pesan penting ayat ini adalah sirkulasi kepemimpinan dan kekuasaan itu pasti akan terjadi. Ruang kompetisi akan memunculkan sosok kepemimpinan baru dari mereka-mereka yang terlibat langsung dalam proses tersebut. Inilah makna istikhlaf, proses menuju kepemimpinan dan kekuasaan.Saudaraku, selama 63 tahun menjadi negara merdeka, di negeri ini telah berlangsung dari pemilu ke pemilu, dari pilakada ke pilkada, sampai dari pilkades ke pilkades. Ini adalah mekanisme kompetisi ruang kepemimpinan yang tersedia, meski nilai dan prosedurnya terus dinamis mengalami berbagai perubahan ke arah perbaikan. Pertanyaan pentingnya, sudahkah kompetisi ini memunculkan sosok pemimpin yang berjatidiri khalifatullah fil-ardh? Atau sudahkah ummat ini benar-benar terlibat (sebagai suatu entitas politik) dalam proses kompetisi ini?Jawaban atas pertanyaan ini memang tidak mudah, bahkan kompleks. Namun ada satu guidance yang Allah letakkan atas kita. Bahkan ini merupakan janji Allah atas kita. Mari perhatikan firman Allah berikut ini:”Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan mengerjakan amal shaleh bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang yang sebelum mereka berkuasa, dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah diridhai-Nya untuk mereka, dan Dia benar-benar akan mengubah (keadaan) mereka, sesudah mereka berada dalam ketakutan menjadi aman sentosa. Mereka tetap menyembah-Ku dengan tiada mempersekutukan sesuatu apapun dengan Aku..” (An-Nuur: 55).Ayat di atas membimbing kita akan beberapa hal mendasar. Pertama, sirkulasi kepemimpinan dan kekuasaan adalah bagian dari proyek Allah untuk meneguhkan posisi manusia sebagai khalifatullah fil-ardh. Allah terlibat dalam setiap prosesnya, baik itu mencabut kekuasaan atau meneguhkan kekuasaan manusia. Kedua, maka seorang muslim harus terlibat sepenuhnya dalam proses kompetisi kepemimpinan dan kekuasaan, agar peluang itu tidak jatuh ke tangan orang-orang yang tidak memenuhi syarat kepemimpinan. Ketiga, secara tegas Allah menetapkan syarat utama calon pemimpin adalah integritas (iman) dan kapabilitas (amal shaleh). Keempat, bahwa kepemimpinan adalah salah satu pilar mewujudkan sistem kehidupan yang benar dan baik. Kelima, kepemimpinan dan sistem kehidupan yang benar dan baik akan mampu mewujudkan perubahan kondisi kehidupan yang diinginkan manusia (secara keseluruhan). Karena kebaikan Islam itu akan mendatangkan manfaat bagi seluruh manusia dan alam semesta. Terakhir, tujuan akhir kepemimpinan dan kekuasaan adalah menjaga spirit Tauhid, sehingga manusia bisa menghadap Al-Khaliq dengan selamat di hari kemudian kelak.Nah saudaraku, jika demikian halnya, bagaimana mungkin kita bisa segera menikmati kehidupan yang digambarkan sebagai hayatun-thayyibah atau baldatun thayyibatun wa rabbun ghafuur, jika masih ada di antara ummat ini yang terus berdebat atau menolak terlibat dalam proses istikhlaf? Setelah membicarakan sifat Islam yang inklusif, sekarang saya ingin mengajak Anda mengelaborasi satu konsep penting ... Baca selengkapnya »